wibiya widget

Senin, 01 Oktober 2012

Suku Asmat


Kebudayaan Suku Asmat
Suku Asmat adalah sebuah suku di Papua. Suku Asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. Populasi suku Asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi ini saling berbeda satu sama lain dalam hal dialek, cara hidup, struktur sosial dan ritual. Populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi ke dalam dua bagian yaitu suku Bisman yang berada di antara sungai Sinesty dan sungai Nin serta suku Simai. Seorang dari suku Asmat tengah membuat ukiran kayu
Ada banyak pertentangan di antara desa berbeda Asmat. Yang paling mengerikan adalah cara yang dipakai Suku Asmat untuk membunuh musuhnya. Ketika musuh dibunuh, mayatnya dibawa ke kampung, kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk dimakan bersama. Mereka menyanyikan lagu kematian dan memenggalkan kepalanya. Otaknya dibungkus daun sago yang dipanggang dan dimakan.
Sekarang biasanya, kira-kira 100 sampai 1000 orang hidup di satu kampung. Setiap kampung punya satu rumah Bujang dan banyak rumah keluarga. Rumah Bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri. Hari ini, ada kira-kira 70.000 orang Asmat hidup di Indonesia. Mayoritas anak-anak Asmat sedang bersekolah.
Suku Asmat berada di antara Suku Mappi, Yohukimo dan Jayawijaya yang terdapat  di Pulau Papua. Sebagaimana suku lainnya yang berada di wilayah ini, Suku Asmat ada yang tinggal di daerah pesisir pantai dengan jarak tempuh dari 100 km hingga 300 km, bahkan Suku Asmat yang berada di daerah pedalaman, dikelilingi oleh hutan heterogen yang berisi tanaman rotan, kayu (gaharu) dan umbi-umbian dengan waktu tempuh selama 1 hari 2 malam untuk mencapai daerah pemukiman satu dengan yang lainnya. Secara umum, kondisi fisik anggota masyarakat Suku Asmat, berperawakan tegap, hidung mancung dengan warna kulit dan rambut hitam serta kelopak matanya bulat.
Dalam kehidupannya, Suku Asmat memiliki 2 jabatan kepemimpinan, yaitu  Kepemimpinan yang berasal dari unsur pemerintah dan  Kepala adat/kepala suku yang berasal dari masyarakat. Kapala adat/kepala suku dari Suku Asmat sangat berpengaruh dan berperan aktif dalam menjalankan tata pemerintahan yang berlaku di lingkungan ini. Karena segala kegiatan di sini selalu didahului oleh acara adat yang sifatnya tradisional, sehingga dalam melaksanakan kegiatan yang sifatnya resmi, diperlukan kerjasama antara kedua pimpinan dalam memperlancar proses tersebut.
Bila kepala suku telah mendekati ajalnya, maka jabatan kepala suku tidak diwariskan ke generasi berikutnya, melainkan  dipilih dari orang yang berasal dari fain, atau marga tertua di lingkungan tersebut atau dipilih dari seorang pahlawan yang berhasil dalam peperangan.
Sebelum para misionaris pembawa ajaran agama datang ke wilayah ini, masyarakat Suku Asmat menganut Anisme. Dan kini, masyarakat suku ini telah menganut berbagai macam agama, seperti Protestan, Khatolik bahkan Islam.
Adapun kegiatan bercocok tanam yang biasa dilakukan adalah menanam berbagai jenis tanaman seperti wortel, matoa, jeruk, jagung, ubi jalar dan keladi. Disamping itu mereka juga beternak ayam dan  babi.
Dalam menjalankan proses kehidupannya suku Asmat menjalankannya melalui berbagai proses sebagai berikut:
Kehamilan
Selama proses ini berlangsung, bakal generasi penerus dijaga dengan baik agar dapat lahir dengan selamat dengan bantuan ibu kandung atau ibu mertua. Generasi penerus akan dididik berdasarkan adat istiadat yang berlaku dalam kebudayaan suku asmat.
Kelahiran
Dalam proses kelahiran, tidak lama setelah si jabang bayi lahir dilaksanakan upacara selamatan dengan acara pemotongan tali pusar yang menggunakan sembilu, alat yang terbuat dari bambu yang dilanjarkan. Selanjutnya diberi ASI sampai usia 2/3 tahun.
Pernikahan
Dilakukan oleh pria maupun wanita yang telah berusia 17 tahun dan dilaksanakan oleh pihak orang tua lelaki setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan dan melalui uji keberanian untuk membeli wanita dengan mas kawinnya piring antik yang berdasarkan pada nilai uang kesepakatan kapal perahu Johnson, maka pihak pria wajib melunasinya dan selama tahap pelunasan pihak pria dilarang melakukan tindakan aniaya walaupun sudah diperbolehkan tinggal satu atap.
Kematian
Bila kepala suku meninggal, maka jasadnya disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku ini, tetapi bila masyarakat umum, jasadnya dikuburkan.
Proses ini dijalankan dengan iringan nyanyian berbahasa asmat dan pemotongan ruas jari tangan dari anggota keluarga yang ditinggalkan.
Dari penjabaran diatas kita mengetahui ada beberapa proses kehidupan yang dijalankan suku asmat berbeda dengan kita, namun ada pula yang sama seperti bayi yang sudah lahir dipotong tali pusarnya tetapi dengan menggunakan alat yang berbeda. Tata cara pernikahan suku asmat jelas sangat berbeda dengan kalangan kita pada umumnya, bahwa wanita suku asmat yang akan menikah harus dibeli oleh pria suku asmat dengan menggunakan piring antik. Kematian kepala suku asmat jasadnya harus disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang, hal ini sangat berbeda dengan kaum kita, pada kalangan kita masyarakat biasa bahwa seseorang yang meninggal pada umumnya jasadnya dikuburkan.
Hal yang lebih menarik bahwsanya bayi babi disusui oleh kaum wanita suku asmat selama usia babi itu mencapai 5 tahun, mungkin bagi kaum biasa itu hal yang tidak wajar, tetapi karena itu merupakan adat istiadat suku mereka maka mereka menganggap ini semua adalah hal yang harus mereka jalankan. Meskipun kita menganggap aturan mereka ini kebanyakan tidak wajar tetapi justru disinilah mereka mempunyai nilai tersendiri. Norma-norma yang mereka anggap ada pada suku mereka maka itulah yang harus mereka taati.
Norma merupakan ukuran yang digunakan oleh masyarakat untuk mengukur apakah tindakan yang dilakukan merupakan tindakan yang wajar dan dapat diterima atau tindakan yang menyimpang. Norma dibangun atas nilai sosial dan norma sosial diciptakan untuk mempertahankan nilai sosial.
Dari norma-norma tersebut yang mereka bangun maka suku asmat pun menjalankan itu semua sesuai dengan kepercayaan mereka.




Kamis, 30 Agustus 2012

30-08-2012

Aloha blog gue tersayang, tercinta, terseksi *lho....??? udah lama banget ya gue ga menjamah blog tersayang ini *hiks*. Kayanya sih gue sibuk nyelsein tugas-tugas kuliah gue yang ga bisa ditinggalin, padahal emang guenya aja yang males berbagi cerita *dezziiiggg*.
Kali ini gue dapet ilham lho buat ngotorin blong tersayang ini, gue juga gatau sih selama ini si ilham kemana aja ga pernah mau mampir di pikiran gue, mungkin dia males aja ketemu gue yg sebenernya pun pemalas, hahaaa...
Lalala syubidubida hari ini gue punya banyak cerita friends. Yang pertama, bangun tidur perut gue kerucuk-kerucuk bolak sana bolak sini (llapeerrr) dan gue mau berterima kasih sama tukang lontong sayur yg bersedia lewat depan rumah gue dan akhirnya perut gue tenang karena gue sumpel pake lontong sayur (lontong sayurnya enak bang, kapan2 kasih gratisan yaak *jauh dari harapan*). Piring lontong sayur udah gue pegang, baru deh gue manggil mama dengan suara gue yang sangat merdu, (maaaa....aku beli lontong sayurnya) emak gue udah paham banget kalo kaya begitu artinya gue minta bayarin, hahahaaa....thanks mama, muuaaaccchh!
Oia gatau kan kalian kalo gue makan tu lontong sayur belom mandi, Cuma bermodal air keran doang buat cuci muka. Jangan ditiru yaa! :-D.
Selesai sarapan gue nonton gossip dulu dikit, ngikutin kebiasaan cewe2 pada umumnya. Bosen juga ngeliatin muka orang di tivi, kalo muka gue sih ga apa2 tapi sayangnya ga ada satupun sutradara atau produser yang mau narik gue buat tampil di tivi, hahaa....
Buka laptop aja deh kalo gitu, dari pada ga ada temen ngobrol mendingan gue berbicara pake batin gue sama laptop, dia pasti ngerti apa yang gue pikirin *gatau juga ngertinya dari mana (-,-“)* ga kerasa juga udah lama bercengkrama sama laptop tau2nya adzan berkumandang, waktunya solat dzuhur untuk wilayah DKI Jakarta beserta rekan-rekannya. Emak gue juga ikutan berkumandang tuh nyuruh gue mandi di rumah tetangga. Kenapa di rumah tetangga coba?.....karena kemaren itu di rumah gue abis dibor sama abang-abang dan airnya seret jadi deh bokap gue rajin ngetok-ngetok rumah tetangga Cuma buat minta air doang (tapi tetangga gue emang baik banget lho J ) ngeliatin abangnya ngebor kayanya asik banget yee, kaya main enjot2an, inget jaman TK dulu waktu gue masih gemuk, item, rambut pirang plus pendek, uh kebayang ga tuh cakepnya gue kayak apa *gatau juga yang diliat cakep itu apanya* miris banget sih gue! Balik lagi keatas, keatas mana?...................pas gue mandi emak gue teriak, “nadiiaaaa...ga jadi mandi di rumah tetangga? Ga ngerti ya yg tadi mama bilang?” aduh, lemot, lemot, lemot nih gue. “aku kan udah buka baju ma, masa harus lari-lari gitu keluar rumah dan ketok-ketok pintu tetangga pake anduk doang??????? Ntar kalo ada cowo lewat gimana?” Dapet rejeki dong dia *oh no!!!!!* tapi akhirnya bokap gue bersiul “udah ga apa2 ma nadia mandi disini” yooaaa terselamtkan deh gue tanpa harus bagi-bagi rejeki sama orang, hihiiii....
Malem-malem nih gue main ke rumah temen, sampe sana adenya temen gue lagi bikin topi hula-hula buat ospek, gue Cuma ngeliatin doang dan berpikir “untung gue udah ngelewatin masa-masa itu” juara lagi deh tu si untung kemana2 dibawa, namanya juga orang indonesia ga bisa jauh-jauh dari kata UNTUNG. Ga lama temen nyokapnya tmn gue dateng bawa cerita, dan itu adalah cerita horror...jrengjeeeennnnggg!!!! gue lupa kalo mlm ini mlm jumat, aih gue mikir nih gimana ntar gue balik sendirian? Tapi akhirnya lagi si dia jemput gue dan rasa takut terselamatkan, ahaaayyy...makasih “dia” *ting-ting ;-)* pake tanda kutip :p
Udah ah nulisnya, emak gue bangun dan gue dimarahin karna belom tidur...anak mama nih (iyalah masa anak kambing) hahaaa...see ya ^_^


Jumat, 04 Mei 2012

Makalah


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dampak dari meningkatnya pelayanan kesehatan, peningkatan ekonomi, serta pola dan gaya hidup yang mengikuti arus globalisasi erat kaitannya dengan masalah kesehatan. Pola dan gaya hidup yang telah bergeser dari pola makan tradisional ke pola makan yang siap saji. Disamping itu, cara hidup yang sangat sibuk dengan pekerjaan menyebabkan tidak adanya kesempatan untuk berolahraga. Pola hidup yang seperti inilah yang menyebabkan peningkatan penyakit-penyakit degeneratif seperti Penyakit Jantung Koroner (PJK), Hipertensi, Diabetes Mellitus, Hiperlipidemia.
Diabetes adalah salah satu penyakit degeneratif yang akan meningkat jumlahnya di masa datang.
Diabetes Mellitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron. (Kapita Selekta, ed.3, jilid 1, 2001: hal. 580).
Insulin adalah hormon yang berfungsi sebagai pengangkut dan menstimulasi glukosa untuk di simpan dalam hati, otot dan sel yang akan di jadikan sebagai nutrisi dan energi. Ketidakmampuan sel beta memproduksi insulin ini sering menjadi masalah yang di alami individu akibat faktor keturunan dan gaya hidup atau pola makan tidak sehat, sebagai akibatnya sel beta mengalami gangguan karena terlalu sering bekerja, apabila hal ini terjadi maka kadar gula dalam darah semakin tinggi atau yang di kenal dengan Diabetes Melitus.
Diabetes Mellitus adalah masalah kesehatan yang serius di dunia. WHO membuat perkiraan bahwa pada tahun 2000 jumlah pengidap Diabetes di atas umur 20 tahun berjumlah 100 juta orang dan dalam kurun waktu 25 tahun kemudian, pada tahun 2025, jumlah itu akan membengkak menjadi 300 juta orang.
WHO memperkirakan Indonesia akan menempati peringkat no. 5 sedunia dengan jumlah pengidap diabetes sebanyak 12,4 juta orang pada tahun 2025. Di DKI Jakarta sendiri telah dilakukan penelitian di 5 wilayah DKI Jakarta dengan hasil sebanyak 15,1 % dengan diabetes mellitus yang terdeteksi sebesar 3,8% dan yang tidak terdeteksi sebesar 11,3%.
Dari aspek promotif di tujukan untuk memberikan pengetahuan dan meningkatkan kesehatan individu dapat dilakukan dengan cara melakukan penyuluhan kesehatan tentang diabetes melitus, untuk pencegahan terjadinya penyakit terhadap individu dapat di lakukan dengan cara menjalankan pola hidup sehat seperti dengan diet makanan rendah gula, kontrol makan dan olahraga, peran perawat pada aspek kuratif di  tujukan untuk program perawatan dan pengobatan individu terutama terjadinya penurunan berat badan, kelelahan, dan ketoasidosis dapat dilakukan dengan pemantauan nutrisi, kolaborasi dalam pemberian obat hiperglikemia oral, insulin dan pemantauan hasil gula darah. Sedangkan perawat pada aspek rehabilitatif ditujukan pada proses pemulihan kesehatan dengan cara mengoptimalkan kondisi fisik klien dan mempertahankan diet dan pengaturan makanan sehingga klien dapat melaksanakan aktifitas sehari-hari seperti biasanya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memodifikasi pola hidup sehat terutama pola makan dan kegiatan jasmani seperti olahraga.
Dari uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Penyebab Timbulnya Penyakit Diabetes Mellitus Pada Kesehatan Masyarakat  Di DKI Jakarta”

A.    Rumusan dan Batasan Masalah
Sebagaimana latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulisan ini mempunyai rumusan masalah yaitu:
Apakah yang menyebabkan timbulnya penyakit diabetes mellitus dan bagaimana pencegahannya?
Sedangkan batasan masalah penulisan ini yaitu penderita diabetes mellitus di DKI Jakarta.

B.     Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini yaitu untuk mengetahui apakah yang menyebabkan timbulnya penyakit diabetes mellitus dan bagaimana pencegahannya.



BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Pengertian
Diabetes Mellitus adalah penyakit hiperglikemi yang ditandai oleh ketiadaan absolut insulin atau insentivitas sel terhadap insulin. (J. Corwin, Elizabeth, 2001: hal. 542).
Diabetes Mellitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron. (Mansjoer, Arif, 2001: hal. 580).
Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. (Sudoyo, Aru W. “et.al”, 2009: hal. 1880).
Dari ketiga pengertian diatas maka penulis menyimpulkan bahwa diabetes melitus atau DM adalah penyakit yang disebabkan oleh tidak ada atau karena tidak efektifnya fungsi insulin karena penurunan produksi insulin, sehingga menyebabkan meningkatnya kadar gula (glukosa) dalam darah.

B.     Klasifikasi Diabetes Mellitus
Diabetes melitus di bedakan menjadi empat , yaitu :
·     Tipe 1 : Diabetes yang tergantung pada insulin/IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus)
·     Tipe II       : Diabetes melitus yang tidak tergantung pada insulin/NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Melitus).
·      Diabetes yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya.
·      Diabetes melitus gestasional (gestational diabetes mellitus atau GDM).
  
C.    Etiologi
Berdasarkan tipe diabetes diatas maka etiologi diabetes melitus adalah sebagai berikut :
1.   Diabetes tipe 1 atau IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus) adalah penderita diabetes yang bergantung pada insulin, dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor genetik, dan imunologi.

Insulin Dependet Diabetes Mellitus (IDDM) / DM type I dipengaruhi oleh:
·         Destruksi sel beta pulau langerhans akibat proses autoimun.
·         Faktor genetik yang mewarisi suatu predisposisi.
·         Faktor lingkungan, virus, toksin tertentu yang memicu proses autoimun.

2.    Diabetes tipe 2 atau NIDDM (Non-Insulin Dependent Diabetes Melitus) yaitu penderita diabetes yang tidak bergantung pada insulin. Diabetes tipe II ini secara mekanisme yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin belum di ketahui.
Faktor genetik di perkirakan memegang peranan dalam proses tejadinya resistensi insulin. Selain itu terdapat pula faktor-faktor resiko yang menyebabkan diabetes tipe II ini terjadi, faktor-faktor tersebut adalah usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia diatas 65 tahun), obesitas, riwayat keluarga, gaya hidup, dan pola makan.

D.    Patofisiologi
Insulin disekresikan oleh sel II beta yang merupkan salah satu dari empat tipe sel dalam pulau II langerhans pankreas, Insulin merupakan hormon anabolik atau menyimpan kalori insulin juga menghambat pemecahan glukosan, protein, dan lemak yang disimpan pada DM tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Sehingga glukosa menjadi tidak terkendali dan tidak bisa disimpan di dalam hati.
Selanjutnya akan dapat menimbulkan hiperglikemia karena tidak ada pengendalian dalam proses glikogenelisis dan glukoneogenesis.


E.     Manifestasi Klinis
Sebagai pedoman dalam diagnosis DM, maka WHO mengeluarkan panduan diagnosis DM, yaitu :
                   a.      Gejala Klinis
1.   Gejala Khas, yang meliputi poliuria (Sering kencing), poliphagia (sering lapar), polidipsia (sering haus), lemas, dan berat badan turun.
2.      Gejala Lain
a. Sistem kardiovaskuler
Hipotensi ortostatik (penurunan tekanan darah sebesar 20 mmHg atau lebih pada saat berdiri), penurunan volume dapat pula menimbulkan hipotensi yang nyata di sertai denyut nadi lemah dan cepat akibat penurunan volume cairan intravaskuler/dehidrasi.
b. Sistem gastrointestinal
Anoreksia, mual, muntah, nyeri abdomen dan napas bau aseton akibat dari efek sampingan pemecahan lemak menjadi badan keton.
c. Sistem pulmoner
Hiperventilasi, pernapasan kussmaul sebagai kompensasi tubuh guna melawan efek dari pembentukan badan keton.
d. Sistem neurologi
Parestesia,  kesemutan, disfungsi seksual (impotensi pada laki-laki).
  
F.     Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan pernyataan yang di buat oleh perawat profesional yang memberi gambaran tentang masalah atau perawat profesional yang memberi gambaran tentang masalah atau status klien, baik aktual maupun resiko yang ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi data hasil pengkajian terkait masalah kesehatan klien berikut penyebabnya yang dapat di atasi melalui tindakan keperawatan. (Asmadi,  2008 : hal. 172)
Dalam penulisan pernyataan diagnosa keperawatan meliputi tiga komponen yaitu komponen P (problem/masalah), komponen E (etiologi/ penyebab), dan komponen S (symptom/tanda dan gejala). Secara teoritis diagnosa yang mungkin terjadi pada penderita penyakit diabetes melitus menurut Marilynn E. Doengoes (2000 : hal. 726) adalah sebagai berikut :
1.  Resiko defisit volume cairan tubuh berhubungan dengan diuresis osmotik (dari hiperglikemia),   kehilangan gastrik berlebih, diare, muntah.
2. Gangguan nutrisi berhubungan dengan ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral, anoreksia, mual, lambung kembung.
3.   Resiko infeksi berhubungan dengan kadar glukosa tinggi, penurunan fungsi leukosit, perubahan pada sirkulasi.
4. Resiko perubahan sensori/perseptual berhubungan dengan perubahan kimia endogen, ketidakseimbangan gula/insulin atau elektrolit.
5.   Kelelahan berhubungan dengan perubahan produksi energi metabolik perubahan kimia darah, insufisiensi insulin.
6.   Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit jangka panjang/progresif yang tidak dapat di obati, ketergantungan pada orang lain.
7.   Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan belajar berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi, kesalahan interpretasi/informasi, kurang mengingat.



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari penulisan ini maka telah diketahui penyebab timbulnya diabetes mellitus diantaranya adalah pola makan yang tidak sehat, gaya hidup, obesitas, riwayat hidup serta faktor lingkungan pun dapat mempengaruhinya. Untuk memberikan pengetahuan dan meningkatkan kesehatan individu dapat dilakukan dengan cara melakukan penyuluhan kesehatan tentang diabetes melitus, untuk pencegahan terjadinya penyakit terhadap individu dapat di lakukan dengan cara menjalankan pola hidup sehat seperti dengan diet makanan rendah gula, kontrol makan dan olahraga, peran perawat pada aspek kuratif ditujukan untuk program perawatan dan pengobatan individu terutama terjadinya penurunan berat badan, kelelahan, dan ketoasidosis dapat dilakukan dengan pemantauan nutrisi, kolaborasi dalam pemberian obat hiperglikemia oral, insulin dan pemantauan hasil gula darah. Sedangkan perawat pada aspek rehabilitatif ditujukan pada proses pemulihan kesehatan dengan cara mengoptimalkan kondisi fisik klien dan mempertahankan diet dan pengaturan makanan sehingga klien dapat melaksanakan aktifitas sehari-hari seperti biasanya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memodifikasi pola hidup sehat terutama pola makan dan kegiatan jasmani seperti olahraga.




Daftar Pustaka
J. Corwin, Elizabeth. (2001). Buku Saku Patofisiologi. (dr. Brahm U. Pendit, Sp. KK., Penerjemah). Jakarta : EGC.
Asmadi. (2008). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : EGC.







Minggu, 18 Maret 2012

Mengimplementasikan Budaya Kepemimpinan di Sekolah

Mengimplementasikan Budaya Kepemimpinan di Sekolah
Oleh: Inggried Dwi Wedhaswary | Kamis, 9 Februari 2012 | 16:26 WIB
Tema: Pendidikan


JAKARTA, KOMPAS.com – Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN) 12 Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, yang menjadi sekolah negeri pertama berbasis karakter kepemimpinan di Indonesia, menggelar pelatihan Implementasi Budaya I. Pelatihan yang digelar beberapa hari lalu ini, diikuti oleh para guru, komite sekolah, serta staf administrasi SDSN 12 Benhil.

Implementasi Budaya I merupakan bagian dari penerapan program The Leader in Me, setelah sebelumnya ada Vision Day dan pelatihan The 7 Habits of Highly Effective Educators oleh Dunamis Foundation. Direktur Dunamis Foundation Andiral Purnomo mengatakan, The Leader in Me merupakan program membangun karakter anak didik sejak dini melalui pengembangan karakter kepemimpinan pendidikan dengan pembentukan budaya sekolah.

Proses implementasi diawali dengan pembentukan budaya kepemimpinan di sekolah yang meliputi tiga tahapan yaitu Vision Day, Pelatihan The 7 Habits of Highly Effective Educators, dan Pelatihan Implementasi Budaya Level 1. Fase ke-2 dalam tahap implementasi adalah aplikasi penggunaan alat bantu untuk penerapan budaya kepemimpinan di sekolah dan ditunjang dengan pelatihan Implementasi Budaya Level 2. Sementara itu, fase ke-3 implementasi adalah memaksimalkan hasil dari penerapan budaya kepemimpinan.

“Tujuan dari pelatihan implementasi budaya level 1 adalah untuk mempersiapkan guru dan manajemen sekolah untuk mengimplementasikan budaya kepemimpinan di SDSN 12 Benhil,” tambah Andiral.

Pelatihan implementasi budaya level 1 The Leader in Me di SDSN 12 Benhil difasilitasi langsung oleh Andiral dan membahas mengenai enam pilar pendukung penerapan The Leader in Me yang menggunakan pendekatan menyeluruh termasuk dengan pemberian keteladanan (modeling), lingkungan sekolah yang mendukung (environment: lihat-dengar-rasa), materi ajar (curriculum), cara penyampaian (instruction), hingga system (systems), dan tradisi kepemimpinan (traditions) yang diselaraskan dengan visi dan misi sekolah bersangkutan.

Program The Leader in Me menggunakan pendekatan menyeluruh (whole-school approach). Pendekatan ini tidak hanya memberikan kesempatan kepada siswa, melainkan juga kepada guru, manajemen sekolah hingga orang tua murid untuk memiliki karakter kepemimpinan melalui prinsip universal 7 Habits. Program The Leader in Me sendiri diadopsi dari prinsip The 7 Habits of Highly Effective People karya DR. Stephen R. Covey yang telah disesuaikan penerapannya untuk lingkungan sekolah.

Para siswa SDSN 12 Benhil pun diharapkan dapat belajar bagaimana menerapkan The 7 Habits dalam kegiatan mereka sehari-hari, baik dalam pelajaran dan perilaku sehari-hari. Program diberikan kepada anak didik melalui transfer knowledge dari para pendidik, baik melalui materi ajar kurikulum, juga melalui teladan seluruh guru dan komponen sekolah, hingga praktek-praktek kepemimpinan di dalam dan luar kelas.


Kunggulan: Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN) 12 Bendungan Hilir ini sudah sangat tepat dengan menyediakan pelatihan kepemimpinan. Tidak di semua sekolah dasar mempunyai program seperti ini, apalagi tidak hanya guru dan siswa saja yang bisa mengikuti pelatihan tersebut, melainkan para orang tua murid pun bisa mengikutinya. Jadi tidak hanya belajar tentang pengetahuan sekolah dasar saja, tetapi para siswa pun mendapatkan ilmu tentang pembentukan budaya kepemimpinan yang nantinya akan mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kelemahan: Program ini hanya diberikan di sekolah dasar saja, sampai saat ini program The Leader in Me belum dapat saya temukan di sekolah menengah ataupun lanjut maupun perguruan tinggi. Padahal semua masyarakat perlu dilatih budaya kepemimpinannya.

Program ini sangat baik diterapkan di kalangan siswa agar siswa dapat memiliki karakter sebagai seorang pemimpin dan agar dapat menghargai dan menghormati seorang pemimpin. Jika siswa sudah bisa menerapkan budaya tersebut, maka kelak mereka akan menjadi seorang pemimpin yang berguna. Tidak hanya untuk siswa saja, guru pun dapat menerapkan budaya kepemimpinan tersebut dihadapan siswa agar kelak dapat dicontoh dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan baik.